Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.881, Tekanan Global Belum Mereda

- Redaksi

Sabtu, 30 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Sri Maulida
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lambung Mangkurat

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kembali menjadi perhatian publik. Pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.881 per dolar AS. Posisi ini melemah sekitar 0,20 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.846 per dolar AS, dan kembali mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah. Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia juga bergerak melemah ke Rp17.883 per dolar AS. Ketika Rupiah melemah hingga Rp17.881, sebagian masyarakat sering menganggap bahwa ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Padahal, tekanan terhadap Rupiah saat ini masih lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, meskipun sentimen domestik juga ikut memperbesar tekanan pasar.

Kondisi global saat ini memang sedang penuh ketidakpastian. Perang memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia. Konflik ini mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global, serta memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi. Harga minyak meningkat tajam sejalan dengan gangguan di Selat Hormuz. Bahkan harga minyak berada di kisaran US$98,95 per barel. Dengan demikian, penutupan Rupiah di level Rp17.881 menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum mereda. Gejolak harga minyak, konflik Timur Tengah, dan kuatnya permintaan terhadap dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Konflik di Timur Tengah juga membuat pelaku pasar memperkirakan bahwa perang dapat berlangsung lebih lama. Berdasarkan pemaparan Bank Indonesia pada tanggal 12 Mei 2026 dalam forum dialog akademisi dan peneliti, kemungkinan konflik Iran-Amerika Serikat (AS) baru berakhir pada akhir tahun masih sangat tinggi, yakni 98% pada 31 Desember 2026. Artinya, pasar memandang risiko geopolitik global belum akan cepat mereda. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, investor cenderung menahan risiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap aman, terutama dolar Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampak berikutnya terlihat pada prospek ekonomi global yang makin melambat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diturunkan menjadi 3,0%, lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya 3,1%. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh 1,8%, sementara negara berkembang sekitar 3,9%. Perlambatan ini penting bagi Indonesia karena dapat menurunkan permintaan ekspor, menekan harga komoditas, dan mengurangi penerimaan devisa. Bagi daerah berbasis sumber daya alam seperti Kalimantan Selatan, kondisi ini perlu diwaspadai karena sangat terkait dengan perdagangan komoditas dan pasar ekspor.

Di sisi lain, tekanan inflasi global juga masih tinggi. Inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,2%, lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya 4,1%. Inflasi di emerging markets masih berada di sekitar 4,2%, sedangkan negara maju sekitar 2,7%. Kombinasi antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi menimbulkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika ekonomi melambat tetapi harga-harga tetap naik.

Baca Juga :  Siapkan Sarapan Pagi Untuk Anggotanya, Kapolres Sinjai : Raih Berkah di Hari Jum'at

Faktor global berikutnya adalah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat. Pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga AS akan semakin mundur. Data Bloomberg menunjukkan bahwa ekspektasi pemotongan suku bunga untuk Desember 2026 turun dari sekitar -32 bps pada 13 Februari 2026, menjadi -13,7 bps pada 17 April 2026. Ini menunjukkan bahwa pasar melihat ruang penurunan suku bunga AS semakin sempit. Kondisi tersebut membuat aset dolar tetap menarik dan mendorong arus modal global bertahan di Amerika Serikat.

Faktor global lain yang memberi tekanan pada Rupiah adalah tingginya imbal hasil surat utang Amerika Serikat atau US Treasury. Yield US Treasury tenor 2 tahun berada di kisaran 3,72%, sementara suku bunga kebijakan The Fed berada di sekitar 3,75%. Yield yang tetap tinggi menunjukkan bahwa aset keuangan AS masih memberikan imbal hasil menarik dengan risiko yang dianggap rendah. Bagi investor global, kondisi ini mendorong pergeseran portofolio dari emerging markets ke aset aman. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, ikut mengalami tekanan.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) masih berada pada level kuat, yakni sekitar 100, sedangkan indeks mata uang emerging markets cenderung lebih lemah. Penguatan dolar ini memperbesar tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk Rupiah, karena permintaan terhadap dolar meningkat di tengah sentimen global yang risk-off. Namun demikian, faktor domestik juga tidak dapat diabaikan. Tekanan terhadap Rupiah ikut dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen, kebutuhan impor, serta kebutuhan musiman lainnya.

Respon Kebijakan

Respons kebijakan Bank Indonesia juga semakin diperkuat. Pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25 persen, sedangkan Lending Facility menjadi 6,00 persen. Kenaikan ini dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus sebagai langkah pre-emptive menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.

Dalam menghadapi tekanan global terhadap Rupiah, Bank Indonesia telah menempuh tiga strategi utama. Strategi pertama adalah memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah. Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valas secara terukur, baik di pasar pasar luar negeri melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar dalam negeri melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa volatilitas Rupiah masih relatif lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang negara berkembang lainnya. Per 8 Mei 2026, volatilitas Rupiah tercatat sekitar 5,25%, lebih rendah dibandingkan Rupee India 8,88%, Peso Filipina 10,72%, Baht Thailand 12,55%, dan Rand Afrika Selatan 16,69%. Dari sisi pelemahan, Rupiah tercatat sekitar -4,14%, masih lebih baik dibandingkan Rupee India -5,32% dan Lira Turki -5,59%. Data ini menunjukkan bahwa meskipun Rupiah mengalami tekanan, stabilitasnya masih relatif terjaga dibandingkan beberapa mata uang negara berkembang lain.

Baca Juga :  Polisi Amankan Seorang Pria Terkait Dugaan Penganiayaan Balita Berusia Dua Tahun Hingga Meninggal Dunia

Strategi kedua adalah melanjutkan peningkatan daya tarik aset domestik secara terukur. Di tengah tingginya imbal hasil aset dolar Amerika Serikat, BI telah memperkuat daya tarik instrumen domestik, terutama melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini membantu menarik dana investor masuk ke pasar keuangan domestik. Selain itu, stabilitas pasar juga didukung oleh Surat Berharga Negara, yaitu surat utang yang diterbitkan pemerintah. Dengan daya tarik imbal hasil yang tetap terjaga, SRBI dan SBN dapat membantu menahan aliran modal keluar dan memperkuat kepercayaan investor terhadap aset Rupiah. Data BI menunjukkan bahwa inflows SRBI sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp92 triliun. Secara bulanan, akumulasi aliran SRBI meningkat dari Rp7,84 triliun pada Januari 2026, menjadi Rp53,72 triliun pada April 2026.

Strategi ketiga adalah penguatan operasi moneter. BI telah mengoptimalkan operasi moneter Rupiah dan valas melalui instrumen repo, FX swap BI, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Repo dilakukan dengan menyediakan dana kepada perbankan dengan menggunakan surat berharga sebagai jaminan. FX swap dilakukan dengan transaksi tukar-menukar valas dan Rupiah antara Bank Indonesia dan perbankan untuk waktu tertentu. Sementara itu, pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan memastikan likuiditas tetap memadai bagi perekonomian.

Data BI menunjukkan bahwa posisi operasi moneter ekspansif sempat meningkat menjelang periode libur Lebaran. Nilai repo tercatat sekitar Rp48 triliun pada April 2026. Selain itu, pembelian SBN oleh BI di pasar sekunder juga meningkat dari sekitar Rp25 triliun pada Januari 2026, menjadi Rp114 triliun pada April 2026.

Dengan demikian, respons BI terhadap tekanan Rupiah telah dilakukan melalui kebijakan yang berlapis. Tiga strategi ini menunjukkan bahwa pengelolaan nilai tukar dilakukan secara hati-hati, terukur, dan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Penutupan Rupiah di level Rp17.881 per dolar AS menjadi sinyal bahwa Indonesia sedang menghadapi tekanan global yang kompleks, mulai dari geopolitik, harga minyak, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga pergeseran arus modal global. Ke depan, stabilisasi Rupiah membutuhkan sinergi kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah, OJK, LPS, dan pelaku pasar. Kebijakan moneter perlu tetap kredibel, kebijakan fiskal perlu menjaga kepercayaan, dan sektor riil perlu terus diperkuat agar ekonomi tidak hanya bertahan dari gejolak global, tetapi juga tetap tumbuh secara sehat.

 

Berita Terkait

Langkah Bertahap di EF EFEKTA English for Adults yang Mudah Dipahami untuk Pemula Tanpa Background Bahasa
10 Destinasi Museum Titanic di Dunia dan Tips Berkunjungnya!
Menjadi Pria Hebat di Era Modern: Lebih dari Sekadar Kekuatan dan Materi
Benefit Kuliah di Australia: Kampus Top dan Prospek Karir Cemerlang
Primbon Hari Ini: Cek Detail Weton Kamis Pahing
Dorong Efisiensi Keuangan, Kanwil Ditjenpas Kalsel Dukung Implementasi Digital Treasury
Strategi Efektif untuk Melunasi Pinjol Tanpa Stres dengan Cepat
6 Novel Tere Liye yang Wajib Dibaca: Karya Sastra Best Seller Indonesia
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:08 WIB

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.881, Tekanan Global Belum Mereda

Selasa, 27 Januari 2026 - 15:16 WIB

Langkah Bertahap di EF EFEKTA English for Adults yang Mudah Dipahami untuk Pemula Tanpa Background Bahasa

Jumat, 26 Desember 2025 - 10:26 WIB

Menjadi Pria Hebat di Era Modern: Lebih dari Sekadar Kekuatan dan Materi

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:54 WIB

Benefit Kuliah di Australia: Kampus Top dan Prospek Karir Cemerlang

Sabtu, 22 November 2025 - 21:52 WIB

Primbon Hari Ini: Cek Detail Weton Kamis Pahing

Berita Terbaru

Bisnis

Solusi Lantai Anti Licin untuk Area Parkir dan Basement

Jumat, 6 Mar 2026 - 05:43 WIB